Bab
4 Pengertian Pengangguran, Inflasi Dan Keterkaitan Antara Pengangguran Dan
Inflasi
Pengertian Penangguran
Tiap negara dapat memberikan definisi yang berbeda mengenai
definisi pengangguran. Nanga (2005: 249) mendefinisikan pengangguran adalah
suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam kategori angkatan kerja
tidak memiliki pekerjaan dan secara aktif tidak sedang mencari pekerjaan. Dalam
sensus penduduk 2001 mendefinisikan pengangguran sebagai orang yang tidak
bekerja sama sekali atau bekerja kurang dari dua hari selama seminggu sebelum
pencacahan dan berusaha memperoleh pekerjaan (BPS, 2001: 8).
Menurut Sukirno (2004: 28) pengangguran adalah jumlah tenaga
kerja dalam perekonomian yang secara aktif mencari pekerjaan tetapi belum
memperolehnya. Selanjutnya International Labor Organization (ILO)
memberikan definisi pengangguran yaitu:
1. Pengangguran terbuka
adalah seseorang yang termasuk kelompok penduduk usia kerja yang selama periode
tertentu tidak bekerja, dan bersedia menerima pekerjaan, serta sedang mencari
pekerjaan.
2. Setengah pengangguran
terpaksa adalah seseorang yang bekerja sebagai buruh karyawan dan pekerja
mandiri (berusaha sendiri) yang selama periode tertentu secara terpaksa bekerja
kurang dari jam kerja normal, yang masih mencari pekerjaan lain atau masih
bersedia mencari pekerjaan lain/tambahan (BPS, 2001: 4).
Sedangkan menurut Survei Angkatan Kerja
Nasional (SAKERNAS) menyatakan bahwa:
1. Setengah pengangguran
terpaksa adalah orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu yang masih
mencari pekerjaan atau yang masih bersedia menerima pekerjaan lain.
2. Setengah pengangguran
sukarela adalah orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu namun tidak
mencari pekerjaan dan tidak bersedia menerima pekerjaan lain (BPS, 2000: 14).
Berdasarkan kepada faktor-faktor yang menimbulkannya,
pengangguran dibedakan kepada tiga jenis, yaitu (Simanjuntak, 1998: 14):
1. Pengangguran friksional
adalah pengangguran yang terjadi akibat kesenjangan waktu, informasi, maupun
kondisi geografis antara pencari kerja dan lowongan kerja.
2. Pengangguran struktural
adalah pengangguran yang terjadi karena pencari kerja tidak memenuhi
persyaratan yang dibutuhkan untuk lowongan pekerjaan yang ada.
3. Pengangguran musiman
adalah pengangguran yang terjadi karena pergantian musim. Pengangguran
berkaitan dengan fluktuasi kegiatan ekonomi jangka pendek, terutama terjadi di
sektor pertanian.
Untuk mengelompokkan masing-masing pengangguran tersebut perlu
diperhatikan dimensi-dimensi yang berkaitan dengan pengangguran itu sendiri,
yaitu (Bakir, 1984: 35):
1.
Intensitas pekerjaan
(yang berkaitan dengan kesehatan dan gizi makanan).
2.
Waktu (banyak di antara
mereka yang bekerja ingin bekerja lebih lama).
3. Produktivitas (kurangnya
produktivitas seringkali disebabkan oleh kurangnya sumber daya komplementer
untuk melakukan pekerjaan).
Berdasarkan dimensi di atas pengangguran dapat dibedakan atas
(BPS, 2000: 8) yaitu:
1.
Pengangguran terbuka,
baik terbuka maupun terpaksa. Secara sukarela, mereka tidak mau bekerja karena
mengharapkan pekerjaan yang lebih baik. Sedangkan pengangguran terpaksa, mereka
mau bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan.
2.
Setengah pengangguran (under
unemployment) yaitu mereka yang bekerja di mana waktu yang mereka pergunakan
kurang dari yang biasa mereka kerjakan.
3.
Tampaknya mereka bekerja,
tetapi tidak bekerja secara penuh. Mereka tidak digolongkan sebagai
pengangguran terbuka dan setengah pengangguran. Yang termasuk dalam kategori
ini adalah:
-
Pengangguran tak kentara
(disguised unemployment).
-
Pengangguran tersembunyi
(hidden unemployment).
-
Pensiunan awal.
PENGERTIAN INFLASI
Definisi Inflasi :
Secara umum inflasi dapat diartikan sebagai
kenaikan tingkat harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus selama
waktu tertentu . Menurut para pakar beberapa pengertian mengenai inflasi:
1. Menurut
Nopirin (1987:25) Proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus
menerus selama peride tertentu.
2. Menurut
Samuelson dan Nordhaus (1998: 578-603) Inflasi dinyatakan sebagai kenaikan
harga secara umum. Jadi tingkat inflasi adalah tingkat perubahan harga secara
umum yang dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut: Rate of inflation
(year t) = Price level (year t)- price level (year t-l) :Price level (year t-l)
Komponen Inflasi
Ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar
dapat dikatakan telah terjadi inflasi, Prathama dan Mandala (2001:203)
1.
Kenaikan harga
Harga
suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lebih tinggi darpada harga periode sebelumnya.
2.
Bersifat umum
Kenaikan
harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut
tidak menyebabkan harga secara umum naik.
3.
Berlangsung terus
menerus
Kenaikan
harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadi
sesaat, karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal
bulanan
Faktor -
faktor yang mempengaruhi Inflasi
Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998:587), ada beberapa
faktor yang menyebabkan timbulnya inflasi:
a.
DemandPull
Inflation
Timbul apabila permintaan
agregat meningkat lebih cepat dibandingkan dengan potensi produktif
perekonomian, menarik harga ke atas untuk menyeimbangkan penawaran dan
pennintaan agregat.
b.
Cost
Push Inflation or Supply Shock Inflation
Inflasi yang diakibatkan oleh peningkatan biaya
selama periode pengangguran tinggi dan penggunaan sumber daya yang kurang
efektif.
Sedangkan faktor- faktor yang
menyebabkan timbulnya inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh Demand Pull
Inflation dan Cost Push Inflation tetapi juga dipengaruhi oleh :
a)
Domestic
Inflation
Tingkat inflasi yang terjadi
karena disebabkan oleh kenaikan harga barang secara
umum di dalam negeri.
umum di dalam negeri.
b)
ImportedInflation
Tingkat inflasi yang terjadi
karena disebabkan oleh kenaikan harga-harga barang
import secara umum
import secara umum
Masalah
Pengangguran dan Inflasi
Setelah dalam sepuluh tahun terakhir laju
inflasi nasional mampu dipertahankan di bawah angka sepuluh persen, namun pada
tahun 1997 laju inflasi akhirnya menembus angka dua digit, yaitu 11,05 persen.
Laju inflasi tahun 1997 itu jauh lebih tinggi jika dibandingkan inflasi 1996
yang 6,47 persen. Hal itu terjadi, di samping karena kemarau panjang, antara
lain juga akibat krisis moneter yang akhirnya melebar jadi krisis ekonomi.
Inflasi bulan Desember 1997 saja tercatat 2,04 persen. Dengan angka inflasi
11,05
persen, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki angka inflasi tertinggi di ASEAN, setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini.
Tingginya angka inflasi karena tidak seimbangnya antara permintaan dan penawaran barang dan jasa.
persen, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki angka inflasi tertinggi di ASEAN, setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini.
Tingginya angka inflasi karena tidak seimbangnya antara permintaan dan penawaran barang dan jasa.
Ini membuktikan tingginya laju inflasi di
negara kita lebih banyak dipengaruhi sektor riil, bukan sektor moneter. Jika kita mengambil kesimpulan mengenai masalah inflasi di Indonesia bahwa ternyata laju inflasi tidak semata ditentukan faktor moneter, tapi juga faktor fisik. Ada empat faktor yang menentukan tingkat inflasi. Pertama, uang yang beredar baik uang tunai maupun giro. Kedua, perbandingan antara sektor moneter dan fisik barang yang tersedia. Ketiga, tingkat suku bunga bank juga ikut mempengaruhi laju inflasi. Suku bunga di Indonesia termasuk lebih tinggi dibandingkan negara di kawasan Asia. Keempat, tingkat inflasi ditentukan faktor fisik prasarana. Melonjaknya inflasipun karena dipicu oleh kebijakan pemerintah yang menarik subisidi sehingga harga listrik dan BBM meningkat. Kenaikan BBM ini telah menggenjot tingkat inflasi bulan Juni 2001 menjadi 1,67 persen.
Dampak ini masih terasa sampai bulan Juli 2001 yang akan memberikan sumbangan inflasi antara 0,3-1 persen. Efek domino yang ditimbulkan pun masih menjadi pemicu kenaikan harga lainnya. Diperkirakan inflasi tahun ini tembus dua digit. Kebijakan kenaikan harga BBM per 15 Juni 2001, menjadi pemicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lainnya. Kenaikan BBM tersebut cukup memberatkan masyarakat lapisan bawah karena dapat menimbulkan multiplier effect, mendorong kenaikan harga jenis barang lainnya yang dalam proses produksi maupun distribusinya menggunakan BBM.
Dampak ini masih terasa sampai bulan Juli 2001 yang akan memberikan sumbangan inflasi antara 0,3-1 persen. Efek domino yang ditimbulkan pun masih menjadi pemicu kenaikan harga lainnya. Diperkirakan inflasi tahun ini tembus dua digit. Kebijakan kenaikan harga BBM per 15 Juni 2001, menjadi pemicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lainnya. Kenaikan BBM tersebut cukup memberatkan masyarakat lapisan bawah karena dapat menimbulkan multiplier effect, mendorong kenaikan harga jenis barang lainnya yang dalam proses produksi maupun distribusinya menggunakan BBM.
Tingginya angka inflasi selanjutnya akan
menurunkan daya beli masyarakat. Untuk bisa bertahan pada tingkat daya beli seperti sebelumnya, para pekerja harus mendapatkan gaji paling tidak sebesar tingkat inflasi. Kalau tidak, rakyat tidak lagi mampu membeli barang-barang yang diproduksi. Jika barang-barang yang diproduksi tidak ada yang membeli maka akan banyak perusahaan yang berkurang keuntungannya. Jika keuntungan perusahaan berkurang maka perusahaan akan berusaha untuk mereduksi cost sebagai konsekuensi atas berkurangnya keuntungan perusahaan. Hal inilah yang akan mendorong perusahaan untuk mengurangi jumlah pekerja/buruhnya dengan mem-PHK para buruh. Salah satu dari jalan keluar dari krisis ini adalah menstabilkan rupiah. Membaiknya nilai tukar rupiah tidak hanya tergantung kepada money suplly dari IMF, tetapi juga investor asing (global investment society) mengalirkan modalnya masuk ke Indonesia (capital inflow). Karena hal inilah maka pengendalian laju inflasi adalah penting dalam rangka mengendalikan angka pengangguran.
SUMBER :
Badan Pusat
Statistik. (2000). Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk
2000. Buku I. Jakarta: BPS.
Nanga, Muana.
(2005). Makroekonomi: Teori, Masalah dan Kebijakan. Edisi
Kedua. Jakarta: PT. Raja Grafika Persada.
Bakir, Zainab dan
Manning,Cris. (1984). Angkatan Kerja Indonesia. Jakarta:
Rajawali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar