Senin, 23 Februari 2015

METODOLOGI STUDY ISLAM

KEDUDUKAN AKAL DAN WAHYU DALAM ISLAM

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam yang diampu oleh Minati Maulida, M.Si








Disusun Oleh :
Zahratun Nisa                 NIM. 2013214453




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN

2014







KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya, sehingga saya berhasil menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya, yang berjudul “Islam Sebagai Agama Wahyu”. Sebagai tugas individu dari mata kuliah Bahasa Indonesia.
Makalah ini berisikan tentang pengertian wahyu untuk memperoleh pengetahuan jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada manusia dan  jalan akal yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua secara detail.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua teman-teman yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita.



Pekalongan,    Januari  2015

Penyusun








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                                                                                         i
DAFTAR ISI                                                                                                       ii
BAB I     :  PENDAHULUAN
A.           LATAR BELAKANG                                                                     1
B.            RUMUSAN MASALAH                                                                 1
C.            TUJUAN                                                                                           2
BAB        II                                                                                                     :    PEMBAHASAN
A.           WAHYU                                                                                           3
1.        PENGERTIAN WAHYU                                                         3
2.        FUNGSI WAHYU                                                                    3
3.        KEKUATAN WAHYU                                                            3
B.            AKAL                                                                                               4
1.        PENGERTIAN AKAL                                                             3
2.        FUNGSI AKAL                                                                        3
3.        KEKUATAN AKAL                                                                3
C.            KEDUDUKAN AKAL TERHADAP WAHYU                            11
BAB III   :  PENUTUP
A.           KRITIK DAN SARAN                                                                    21
B.            KESIMPULAN                                                                               21
DAFTAR PUSTAKA                                                                                          22


BAB I
PENDAHULUAN


A.           LATAR BELAKANG
Kedudukan akal dan wahyu dalam Islam menempati posisi yang sangat terhormat, melebihi agama-agama lain. Akal dan wahyu adalah suatu yang sangat urgen untuk manusia, yang memberikan perbedaan manusia untuk mencapai derajat ketaqwaan kepada sang Kholiq, akal pun harus dibina dengan ilmu-ilmu sehingga menghasilkan budi pekerti yang sangat mulia yang menjadi dasar sumber kehidupan dan merupakan tujuan dari baginda Rasulullah SAW. Tidak hanaya itu dengan akal, manusia bisa menjadi ciptaan pilihan yang Allah amanatkan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini, begitu juga dengan wahyu yang dimana wahyu adalah pemberian Allah yang sangat luar biasa untuk membimbing manusia pada jalan yang lurus.
Namun dalam menggunakan akal terbatas akan hal-hal bersifat tauhid, karena ketauhidan sang Ppncipta tak akan terukur dalam menemukan titik akhir, begitu pula dengan wahyu sang Esa, karena wahyu diberikan kepada orang-orang terpilih dan semata-mata untuk menunjukkan kebesaran Allah. Maka dalam menangani anatara wahyu dan akal harus slalu mengingat bahwa semua itu karena Allah semata, dan tidak akan terjadi jika Allah tak mengijinkannya. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kemusyrikan terhadap Allah karena kesombongannya.

B.            RUMUSAN MASALAH
1.    Apa pengertian wahyu?
2.    Apa pengertian akal?
3.    Bagaimana kedudukan wahyu dan akal?



C.           TUJUAN
Dengan mempelajari dan memahami isi makalah ini, kita diharapkan mampu untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan wahyu dan akal serta kedudukan akal terhadap wahyu.
Dengan memahami materi ini juga, kita menjadi tahu bahwa pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar. Sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.






















BAB II
PEMBAHASAN


A.     WAHYU
1.             Pengertian Wahyu
Kata wahyu berasal dari kata arab الوحي, yang berarti suara, api dan kecepatan.[1]
Ketika Al-Wahyu berbentuk mashdar memiliki dua arti yaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu wahyu sering disebut sebuah pemberitahuan tersmbunyi dan cepat kepada seseorang yang terpilih tanpa seorangpun yang mengetahuinya. Sedangkan ketika berbentuk maf’ul wahyu Allah terhadap nabi-nabi-Nya ini sering disebut Kalam Allah yang diberikan kepada nabi.[2]
Menurut Muhammad Abduh dalam Risalatut Tauhid berpendapat bahwa wahyu adalah pengetahuan yang di dapatkan oleh seseorang dalam dirinya sendiri disertai keyakinan bahwa semua itu datang dari Allah SWT, baik melalui perantara maupun tanpa perantara. Baik menjelma seperti suara yang masuk dalam telinga ataupun lainnya.[3]
Wahyu secara etimologi adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain. Wahyu secara terminologi adalah firman Allah yang disampaikan kepada para nabi dan awliya.

2.             Fungsi Wahyu
Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia, yaitu  memberitahu manusia bagaimana cara berterimakasih kepada Tuhan menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat.
Sebenarnya wahyu secara tidak langsung adalah senjata yang diberikan Allah kepada nabi-nabi-NYA. Untuk melindungi diri dan pengikutnya dari ancaman orang-orang yang tak menyukai keberadaanya dan sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan sang pencipta yaitu Allah SWT.

3.             Kekuatan Wahyu
Memang sulit saat ini membuktikan jika wahyu memiliki kekuatan, tetapi kita tidak mampu mengelak sejarah wahyu ada. Oleh karena itu wahyu diyakini memiliki kekuatan karena beberapa faktor antara lain:
a.    Wahyu ada karena ijin dari Allah, atau wahyu ada karena pemberian Allah.
b.    Wahyu lebih condong melalui dua mukjizat yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
c.    Membuat suatu keyakinan pada diri manusia.
d.   Untuk memberi keyakinan yang penuh pada hati tentang adanya alam ghaib.
e.    Wahyu turun melalui ucapan para nabi-nabi.

B.     AKAL
1.             Pengertian Akal
Dalam kamus Bahasa Arab Lisan Al-‘Arab menjelaskan bahwa al-aql  berarti al-hijr menahan dan al-‘aqil ialah orang yang menhan diri dan mengekang hawa nafsu. Diterangkan pula bahwa al-‘aql  mengandung arti kebijaksanaan al-nuha, lawan dari lemah pikiran al-humq. Selanjutnya disebut bahwa al-‘aql juga mengandung arti kalbu, al-qalb, hati nurani atau hati sanubari.
Arti asli dari kata ‘aqala kelihatannya adalah mengikat dan menahan dan orang yang ‘aqil di jaman jahiliyah, yang dikenal dengan hamiyyah atau darah panasnya, adalah orang yang dapat menahan amarahnya. Oleh karena itu mereka dapat mengambil sikap dan tindakan yang berisi kebijaksanaan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.[4]
Di kalangan teolog muslim, mengartikan akal sebagai daya untuk memperoleh pengetahuan, seperti  pendapat Abu al-Huzail, akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan, daya yang  membuat  seseorang dapat  membedakan dirinya dengan benda-benda lain, dan mengabstrakkan benda-benda yang ditangkap oleh panca indera. Di kalangan Mu’tazilah akal memiliki fungsi dan tugas  moral, yakni di samping untuk memperoleh pengetahuan, akal juga memiliki daya untuk membedakan antara kebaikan dan kejahatan, bahkan akal merupakan petunjuk jalan bagi manusia dan yang membuat manusia menjadi pencipta perbuatannya sendiri.[5]
Dalam pemahaman Profesor Izutsu, kata ‘aql di jaman jahiliyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah setiap kali ia dihadapkan dengan problema dan selanjutnya dapat melepaskan diri dari bahaya yang ia hadapi. Kebijaksanaan praktis serupa ini amat dihargai oleh orang Arab jaman jahiliah.[6]

2.             Fungsi Akal
Akal banyak memiliki fungsi dalam kehidupan, antara lain:
a.    Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan.
b.    Sebagai alat untuk menemukan solusi ketika permasalahan datang.
c.    Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar.
Hakikat dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia yang akan meninjau baik, buruk dan akibatnya dari hal yang akan dikerjakan tersebut. Dan Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati. iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal. Iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akallah yang menjadi sumber keyakinan pada Tuhan.

3.             Kedudukan Akal
Tak seperti wahyu, kekuatan akal lebih terlihat jelas dan mudah dimengerti, seperti contoh:
a.    Mengetahui Tuhan dan sifat-sifatnya.
b.    Mengetahui adanya hidup akhirat.
c.    Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal Tuhan dan berbuat baik, sedang kesengsaran tergantung pada tidak mengenal Tuhan dan pada perbuatan jahat.
d.   Mengetahui wajibnya manusia mengenal Tuhan.
e.    Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.
f.     Membuat hukum-hukum mengnai kewajiban-kewajiban itu.

D.          KEDUDUKAN AKAL DAN WAHYU DALAM ISLAM
Kedudukan antara akal dan wahyu dalam Islam sama-sama penting. Islam tak akan terlihat sempurna jika tak ada wahyu maupun akal. Kedua hal ini sangat berpengaruh dalam segala hal dalam Islam. Andai ketika hukum Islam berbicara yang identik dengan wahyu, maka akal akan segera menerima dan mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut sesuai akan suatu tindakan yang terkena hukum tersebut. Sesungguhnya akal dan wahyu itu memiliki kesamaan yang diberikan Allah, namun kalau wahyu hanya orang-orang tertentu yang mendapatkanya tanpa seorangpun yang mengetahui, dan akal adalah hadiah terindah bagi setiap manusia yang diberikan Allah.
Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian, bukan berarti akal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat Islam dalam permasalahan apapun. Wahyu baik berupa Al-Qur’an dan Hadis bersumber dari Allah SWT, Nabi Muhammad SAW memainkan peranan yang sangat penting dalam turunnya wahyu. Wahyu merupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh umat manusia, tanpa mengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan dalam bentuk umum atau khusus. Apa yang dibawa oleh wahyu tidak ada yang bertentangan dengan akal, bahkan ia sejalan dengan prinsip-prinsip akal. Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah-pisah. Wahyu itu menegakkan hukum menurut kategori perbuatan manusia. baik perintah maupun larangan. Sesungguhnya wahyu yang berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah turun secara berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup panjang.[7]
Namun tidak selalu mendukung antara wahyu dan akal, karena seiring perkembangan zaman akal yang semestinya mempercayai wahyu adalah sebuah anugrah dari Allah terhadap orang yang terpilih, terkadang mempertanyakan keaslian wahyu tersebut. Apakah wahyu itu benar dari Allah ataukah hanya pemikiran seseorang yang beranggapan semua itu wahyu. Seperti pendapat Abu Jabbar bahwa akal tak dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari pada upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain. Demikian pula akal tak mengetahui bahwa hukuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua itu hanya dapat diketahui dengan perantara wahyu. Al-Jubbai berkata wahyulah yang menjelaskan perincian hukuman dan upah yang akan diperoleh manusia di akhirat.
 Karena masalah akal dan wahyu dalam pemikiran Kalam sering dibicarakan dalam konteks yang manakah diantara akal dan wahyu itu yang menjadi sumber pengetahuan manusia tentang Tuhan, tentang kewajiban manusia berterima kasih kepada Tuhan, tentang apa yang baik dan yang buruk, serta tentang kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk. Maka para aliran Islam memiliki pendapat sendiri-sendiri antra lain[8] 
I.         Aliran Mu’tazilah sebagai penganut pemikiran kalam tradisional, berpendapat bahwa akal mmpunyai kemampuan mengetahui empat konsep tersebut.
II.      Sementara itu aliran Maturidiyah Samarkand yang juga termasuk pemikiran kalam tradisional, mengatakan juga kecuali kewajiban menjalankan yang baik dan yang buruk akan mempunyai kemampuan mengetahui ketiga hal tersebut.
III.   Sebaliknya aliran Asy’ariyah, sebagai penganut pemikiran kalam tradisional juga berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui Tuhan sedangkan tiga hal lainnya, yakni kewajiban berterima kasih kepada Tuhan, baik dan buruk serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat diketahui manusia berdasarkan wahyu.
IV.   Sementara itu aliran maturidiah Bukhara yang juga digolongkan kedalam pemikiran kalam tradisional berpendapat bahwa dua dari keempat hal tersebut yakni mengetahui Tuhan dan mengetahui yang baik dan buruk dapat diketahui dngan akal, sedangkan dua hal lainnya yakni kewajiaban berterima kasih kepada Tuhan serta kewajiban melaksanakan yang baik serta meninggalkan yang buruk hanya dapat diketahui dengan wahyu.
Adapun ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh paham Maturidiyah Samarkand dan Mu’tazilah, dan terlebih lagi untuk menguatkan pendapat mereka adalah Q.S As-Sajdah, Q.S Al-Ghosiyah ayat 17 dan Q.S Al-A’rof ayat 185. Di samping itu buku ushul fiqih berbicara tentang siapa yang menjadi hakim atau pembuat hukum sebelum bi’sah atau nabi diutus, menjelaskan bahwa Mu’tazilah berpendapat pembuat hukum adalah akal manusia sendiri. dan untuk memperkuat pendapat mereka dipergunakan dalil Al-Qur’an surat Hud ayat 24. Sementara itu aliran kalam tradisional mngambil beberapa ayat Al-Qur’an sebagai dalil dalam rangka memperkuat pendapat yang mereka bawa. ayat-ayat tersebut adalah ayat 15 Q.S Al-Isro, ayat 134 Q.S Taha, ayat 164 Q.S An-Nisa dan ayat 18 Q.S Al-Mulk.
Dalam menangani hal tersebut banyak beberapa tokoh dengan pendapatnya memaparkan hal-hal yang berhubungan antara wahyu dan akal. Seperti  Harun Nasution menggugat masalah dalam berfikir yang dinilainya sebagai kemunduran umat Islam dalam sejarah. Menurut beliau yang diperlukan adalah suatu upaya untuk merasionalisasi pemahaman umat Islam yang dinilai dogmatis tersebut, yang menyebabkan kemunduran umat Islam karena kurang mengoptimalkan  potensi akal yang dimiliki. Bagi Harun Nasution agama dan wahyu pada hakikatnya hanya dasar saja dan tugas akal yang akan menjelaskan dan memahami agama tersebut.


















BAB III
PENUTUP

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian wahyu adalah sabda Tuhan yang disampaikan kepada orang pilihan-Nya agar diteruskan kepada manusia untuk dijadikan pegangan hidup. Sedangkan akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan, daya yang membuat seseorang dapat membedakan dirinya dengan benda-benda lain, dan mengabstrakkan benda-benda yang ditangkap oleh panca indera.
Al-Qur’an menempatkan akal pada posisi penting dalam ajaran islam, bahkan dijadikan sebagai dasar dan sumber hukum setelah Al-Qur’an dan Hadis yang dilakukan melalui ijtihad. Akal menjadi faktor utama yang menempatkan manusia pada kedudukan yang lebih mulia dibandingkan makhluk Allah lainnya. Dengan akal, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga terwujud kebudayaaan.

















DAFTAR PUSTAKA


Aziz, Abdul, Qur’an Hadits, Semarang: CV Wicaksana, 1994.

Nasution, Harun, Akal dan Wahyu dalam Islam, UI Press, Jakarta, cetakan kedua, 1986.

Abdurrahman,Hafidz, Ulumul Quran Praktis, Bogor: CV Idea Pustaka Utama, 2003.

Muhammad Abduh dalam bukunya, Risalah At-Tauhid.

TM. As-Shiddieqy, Hasbi, Sejarah  dan Pengantar Ilmu Alquran dan Tafsir, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010, hal. 8.

Mohammad Muslih, Pengantar Ilmu Filsafat, Ponorogo: Darussalam University Press, 2008, hal. 39.

Al-Bukhori, Kitab Permulaan Wahyu, hadis no. 2.

Almunadi, Ulumul Quran 1, Palembang: Grafika Telindo Press, 2012.



Nasution, Harun, Akal Dan Wahyu Dalam Islam, Jakarta: UI Press. 1986.

Toshihiko Izutsu, Litt. D., God and Man in the Quran, Tokio, Keio University, 1964, hlm. 65.

Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang. 1992.

Lihat al-Syahrastani, Kitab Nihayah al-Iqdam fi ‘Ilm al-Kalam (selanjutnya disebutNihayah) London, 1934, hlm.371.

Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986. Hlm 81-82.

Nasution, Harun, Teologi Islam, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986. Hlm. 97-111.

Al-Qur’an, Semarang: Alwaah, 2002, Hlm. 334,430,470,224,537,459,68-69,305



[1] Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, UI Press, Jakarta, cetakan kedua, 1986
[2] Harun  Nasution, Teologi Islam (Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan), UI Press, Jakarta,cet.V,1986.
[3] Muhammad Abduh dalam bukunya, Risalah At-Tauhid
[4] Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986, hlm 5-6.
[5] Harun Nasution, Akal Dan Wahyu Dalam Islam, Jakarta: UI Press. 1986.
[6] Toshihiko Izutsu, Litt. D., God and Man in the Quran, Tokio, Keio University, 1964, hlm. 65.
[7] Harun Nasution, Tentang Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, jilid I,II.
[8] Atang, Metodologi Study Islam, PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar