KEDUDUKAN AKAL
DAN WAHYU DALAM ISLAM
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam yang diampu
oleh Minati Maulida, M.Si
Disusun Oleh :
Zahratun
Nisa NIM. 2013214453
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya, sehingga saya
berhasil menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya, yang
berjudul “Islam Sebagai Agama Wahyu”. Sebagai tugas individu dari mata kuliah Bahasa
Indonesia.
Makalah ini berisikan tentang pengertian wahyu untuk
memperoleh pengetahuan jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada
manusia dan jalan akal yang
dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Diharapkan makalah ini dapat memberikan
informasi kepada kita semua secara detail.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada
semua teman-teman yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari
awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita.
Pekalongan, Januari 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I : PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG 1
B.
RUMUSAN MASALAH 1
C.
TUJUAN 2
BAB II : PEMBAHASAN
A.
WAHYU 3
1.
PENGERTIAN WAHYU 3
2.
FUNGSI WAHYU 3
3.
KEKUATAN WAHYU 3
B.
AKAL 4
1.
PENGERTIAN AKAL 3
2.
FUNGSI AKAL 3
3.
KEKUATAN AKAL 3
C.
KEDUDUKAN AKAL TERHADAP WAHYU 11
BAB III : PENUTUP
A.
KRITIK DAN SARAN 21
B.
KESIMPULAN
21
DAFTAR PUSTAKA 22
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Kedudukan
akal dan wahyu dalam Islam menempati posisi yang sangat terhormat, melebihi agama-agama lain. Akal dan wahyu
adalah suatu yang sangat urgen untuk manusia, yang memberikan perbedaan manusia
untuk mencapai derajat ketaqwaan kepada sang Kholiq, akal pun harus dibina
dengan ilmu-ilmu sehingga menghasilkan budi pekerti yang sangat mulia yang
menjadi dasar sumber kehidupan dan merupakan tujuan dari baginda Rasulullah
SAW. Tidak hanaya itu dengan akal, manusia bisa menjadi ciptaan pilihan yang Allah
amanatkan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini, begitu juga dengan wahyu
yang dimana wahyu adalah pemberian Allah yang sangat luar biasa untuk membimbing
manusia pada jalan yang lurus.
Namun dalam
menggunakan akal terbatas akan hal-hal bersifat tauhid, karena ketauhidan sang Ppncipta
tak akan terukur dalam menemukan titik akhir, begitu pula dengan wahyu sang
Esa, karena wahyu diberikan kepada orang-orang terpilih dan semata-mata untuk
menunjukkan kebesaran Allah. Maka dalam menangani anatara wahyu dan akal harus
slalu mengingat bahwa semua itu karena Allah semata, dan tidak akan terjadi
jika Allah tak mengijinkannya. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah
kemusyrikan terhadap Allah karena kesombongannya.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian wahyu?
2.
Apa pengertian akal?
3.
Bagaimana kedudukan wahyu dan akal?
C.
TUJUAN
Dengan mempelajari dan memahami isi makalah
ini, kita diharapkan mampu untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan wahyu dan akal serta kedudukan akal terhadap wahyu.
Dengan memahami materi ini juga, kita menjadi
tahu bahwa pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak
benar. Sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif,
mungkin benar dan mungkin salah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
WAHYU
1.
Pengertian Wahyu
Kata wahyu berasal dari kata arab الوØÙŠ, yang berarti suara, api dan
kecepatan.[1]
Ketika Al-Wahyu berbentuk mashdar memiliki
dua arti yaitu tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu wahyu sering disebut
sebuah pemberitahuan tersmbunyi dan cepat kepada seseorang yang terpilih tanpa
seorangpun yang mengetahuinya. Sedangkan ketika berbentuk maf’ul wahyu Allah
terhadap nabi-nabi-Nya ini sering disebut Kalam Allah yang diberikan kepada
nabi.[2]
Menurut Muhammad Abduh dalam Risalatut Tauhid berpendapat bahwa wahyu
adalah pengetahuan yang di dapatkan oleh seseorang dalam dirinya sendiri
disertai keyakinan bahwa semua itu datang dari Allah SWT, baik melalui
perantara maupun tanpa perantara. Baik menjelma seperti suara yang masuk dalam telinga
ataupun lainnya.[3]
Wahyu secara etimologi adalah pemberitahuan
secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu
tanpa diketahui orang lain. Wahyu secara terminologi adalah firman Allah yang disampaikan
kepada para nabi dan awliya.
2.
Fungsi Wahyu
Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia,
yaitu memberitahu manusia bagaimana cara
berterimakasih kepada Tuhan menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang
buruk, serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia
di akhirat.
Sebenarnya wahyu secara tidak langsung adalah
senjata yang diberikan Allah kepada nabi-nabi-NYA. Untuk melindungi diri dan
pengikutnya dari ancaman orang-orang yang tak menyukai keberadaanya dan sebagai
bukti bahwa beliau adalah utusan sang pencipta yaitu Allah SWT.
3.
Kekuatan Wahyu
Memang sulit
saat ini membuktikan jika wahyu memiliki kekuatan, tetapi kita tidak mampu
mengelak sejarah wahyu ada. Oleh karena itu wahyu diyakini memiliki kekuatan
karena beberapa faktor antara lain:
a.
Wahyu ada karena ijin dari Allah, atau wahyu
ada karena pemberian Allah.
b.
Wahyu lebih condong melalui dua mukjizat yaitu Al-Qur’an
dan As-Sunnah.
c.
Membuat suatu keyakinan pada diri manusia.
d.
Untuk memberi keyakinan yang penuh pada hati
tentang adanya alam ghaib.
e.
Wahyu turun melalui ucapan para nabi-nabi.
B.
AKAL
1.
Pengertian Akal
Dalam
kamus Bahasa Arab Lisan Al-‘Arab menjelaskan bahwa al-aql berarti al-hijr menahan dan al-‘aqil
ialah orang yang menhan diri dan mengekang hawa nafsu. Diterangkan pula bahwa al-‘aql
mengandung arti kebijaksanaan al-nuha, lawan dari lemah
pikiran al-humq. Selanjutnya disebut bahwa al-‘aql juga
mengandung arti kalbu, al-qalb, hati nurani atau hati sanubari.
Arti
asli dari kata ‘aqala kelihatannya adalah mengikat dan menahan
dan orang yang ‘aqil di jaman jahiliyah, yang dikenal
dengan hamiyyah atau darah panasnya, adalah orang yang dapat
menahan amarahnya. Oleh karena itu mereka dapat mengambil sikap dan tindakan
yang berisi kebijaksanaan dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.[4]
Di kalangan teolog muslim,
mengartikan akal sebagai daya untuk memperoleh pengetahuan, seperti
pendapat Abu al-Huzail, akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan, daya
yang membuat seseorang dapat membedakan dirinya dengan benda-benda
lain, dan mengabstrakkan benda-benda yang ditangkap oleh panca indera. Di
kalangan Mu’tazilah akal memiliki fungsi dan tugas moral, yakni di
samping untuk memperoleh pengetahuan, akal juga memiliki daya untuk membedakan
antara kebaikan dan kejahatan, bahkan akal merupakan petunjuk jalan bagi
manusia dan yang membuat manusia menjadi pencipta perbuatannya sendiri.[5]
Dalam
pemahaman Profesor Izutsu, kata ‘aql di jaman jahiliyah
dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang
dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving
capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai
kecakapan untuk menyelesaikan masalah setiap kali ia dihadapkan dengan problema
dan selanjutnya dapat melepaskan diri dari bahaya yang ia hadapi. Kebijaksanaan
praktis serupa ini amat dihargai oleh orang Arab jaman jahiliah.[6]
2.
Fungsi Akal
Akal
banyak memiliki fungsi dalam kehidupan, antara lain:
a.
Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan
kebatilan.
b.
Sebagai alat untuk menemukan solusi ketika
permasalahan datang.
c.
Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan
cara tingkah laku yang benar.
Hakikat dari akal adalah sebagai mesin
penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan
setiap manusia yang akan meninjau baik, buruk dan akibatnya dari hal yang akan
dikerjakan tersebut. Dan Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati. iman
tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal. Iman harus berdasar pada
keyakinan, bukan pada pendapat dan akallah yang menjadi sumber keyakinan pada Tuhan.
3.
Kedudukan Akal
Tak seperti
wahyu, kekuatan akal lebih terlihat jelas dan mudah dimengerti, seperti contoh:
a.
Mengetahui Tuhan dan sifat-sifatnya.
b.
Mengetahui adanya hidup akhirat.
c.
Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung
pada mengenal Tuhan dan berbuat baik, sedang kesengsaran tergantung pada tidak
mengenal Tuhan dan pada perbuatan jahat.
d.
Mengetahui wajibnya manusia mengenal Tuhan.
e.
Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan
wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.
f.
Membuat hukum-hukum mengnai kewajiban-kewajiban
itu.
D.
KEDUDUKAN AKAL DAN WAHYU DALAM ISLAM
Kedudukan
antara akal dan wahyu dalam Islam sama-sama penting. Islam tak akan terlihat
sempurna jika tak ada wahyu maupun akal. Kedua hal ini sangat berpengaruh dalam
segala hal dalam Islam. Andai ketika hukum Islam berbicara yang identik dengan
wahyu, maka akal akan segera menerima dan mengambil kesimpulan bahwa hal
tersebut sesuai akan suatu tindakan yang terkena hukum tersebut. Sesungguhnya
akal dan wahyu itu memiliki kesamaan yang diberikan Allah, namun kalau wahyu
hanya orang-orang tertentu yang mendapatkanya tanpa seorangpun yang mengetahui,
dan akal adalah hadiah terindah bagi setiap manusia yang diberikan Allah.
Dalam
Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian, bukan berarti
akal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan
untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya.
Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat Islam
dalam permasalahan apapun. Wahyu baik berupa Al-Qur’an dan Hadis bersumber dari
Allah SWT, Nabi Muhammad SAW memainkan peranan yang sangat penting dalam
turunnya wahyu. Wahyu merupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh
umat manusia, tanpa mengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan
dalam bentuk umum atau khusus. Apa yang dibawa oleh wahyu tidak ada yang
bertentangan dengan akal, bahkan ia sejalan dengan prinsip-prinsip
akal. Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak
terpisah-pisah. Wahyu itu menegakkan hukum menurut kategori perbuatan manusia.
baik perintah maupun larangan. Sesungguhnya wahyu yang berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah
turun secara berangsur-angsur dalam rentang waktu yang cukup panjang.[7]
Namun
tidak selalu mendukung antara wahyu dan akal, karena seiring perkembangan zaman
akal yang semestinya mempercayai wahyu adalah sebuah anugrah dari Allah
terhadap orang yang terpilih, terkadang mempertanyakan keaslian wahyu tersebut.
Apakah wahyu itu benar dari Allah ataukah hanya pemikiran seseorang yang
beranggapan semua itu wahyu. Seperti pendapat Abu Jabbar bahwa akal tak
dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari pada
upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain. Demikian pula akal tak
mengetahui bahwa hukuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman
untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua itu hanya dapat diketahui dengan
perantara wahyu. Al-Jubbai berkata wahyulah yang menjelaskan perincian hukuman
dan upah yang akan diperoleh manusia di akhirat.
Karena
masalah akal dan wahyu dalam pemikiran Kalam sering dibicarakan dalam konteks
yang manakah diantara akal dan wahyu itu yang menjadi sumber pengetahuan
manusia tentang Tuhan, tentang kewajiban manusia berterima kasih kepada Tuhan,
tentang apa yang baik dan yang buruk, serta tentang kewajiban menjalankan yang
baik dan menghindari yang buruk. Maka para aliran Islam memiliki pendapat
sendiri-sendiri antra lain[8]
I.
Aliran
Mu’tazilah sebagai penganut pemikiran kalam tradisional, berpendapat bahwa akal
mmpunyai kemampuan mengetahui empat konsep tersebut.
II.
Sementara
itu aliran Maturidiyah Samarkand yang juga termasuk pemikiran kalam
tradisional, mengatakan juga kecuali kewajiban menjalankan yang baik dan yang
buruk akan mempunyai kemampuan mengetahui ketiga hal tersebut.
III.
Sebaliknya
aliran Asy’ariyah, sebagai penganut pemikiran kalam tradisional juga
berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui Tuhan sedangkan tiga hal lainnya,
yakni kewajiban berterima kasih kepada Tuhan, baik dan buruk serta kewajiban
melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat diketahui manusia berdasarkan
wahyu.
IV.
Sementara
itu aliran maturidiah Bukhara yang juga digolongkan kedalam pemikiran kalam
tradisional berpendapat bahwa dua dari keempat hal tersebut yakni mengetahui Tuhan
dan mengetahui yang baik dan buruk dapat diketahui dngan akal, sedangkan dua
hal lainnya yakni kewajiaban berterima kasih kepada Tuhan serta kewajiban
melaksanakan yang baik serta meninggalkan yang buruk hanya dapat diketahui
dengan wahyu.
Adapun
ayat-ayat yang dijadikan dalil oleh paham Maturidiyah Samarkand dan Mu’tazilah,
dan terlebih lagi untuk menguatkan pendapat mereka adalah Q.S As-Sajdah, Q.S
Al-Ghosiyah ayat 17 dan Q.S Al-A’rof ayat 185. Di samping itu buku ushul fiqih
berbicara tentang siapa yang menjadi hakim atau pembuat hukum sebelum bi’sah
atau nabi diutus, menjelaskan bahwa Mu’tazilah berpendapat pembuat hukum adalah
akal manusia sendiri. dan untuk memperkuat pendapat mereka dipergunakan dalil Al-Qur’an
surat Hud ayat 24. Sementara itu aliran kalam tradisional mngambil beberapa
ayat Al-Qur’an sebagai dalil dalam rangka memperkuat pendapat yang mereka bawa.
ayat-ayat tersebut adalah ayat 15 Q.S Al-Isro, ayat 134 Q.S Taha, ayat 164 Q.S
An-Nisa dan ayat 18 Q.S Al-Mulk.
Dalam menangani hal tersebut banyak
beberapa tokoh dengan pendapatnya memaparkan hal-hal yang berhubungan antara
wahyu dan akal. Seperti Harun Nasution menggugat masalah dalam berfikir
yang dinilainya sebagai kemunduran umat Islam dalam sejarah. Menurut beliau
yang diperlukan adalah suatu upaya untuk merasionalisasi pemahaman umat Islam
yang dinilai dogmatis tersebut, yang menyebabkan kemunduran umat Islam karena
kurang mengoptimalkan potensi akal yang dimiliki. Bagi Harun Nasution
agama dan wahyu pada hakikatnya hanya dasar saja dan tugas akal yang akan
menjelaskan dan memahami agama tersebut.
BAB III
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat
disimpulkan bahwa pengertian wahyu adalah sabda Tuhan yang disampaikan kepada
orang pilihan-Nya agar diteruskan kepada manusia untuk dijadikan pegangan
hidup. Sedangkan akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan, daya yang
membuat seseorang dapat membedakan dirinya dengan benda-benda lain, dan
mengabstrakkan benda-benda yang ditangkap oleh panca indera.
Al-Qur’an menempatkan akal pada posisi penting
dalam ajaran islam, bahkan dijadikan sebagai dasar dan sumber hukum setelah
Al-Qur’an dan Hadis yang dilakukan melalui ijtihad. Akal menjadi faktor utama
yang menempatkan manusia pada kedudukan yang lebih mulia dibandingkan makhluk
Allah lainnya. Dengan akal, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan
sehingga terwujud kebudayaaan.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz,
Abdul, Qur’an Hadits, Semarang: CV Wicaksana, 1994.
Nasution, Harun, Akal dan Wahyu dalam Islam,
UI Press, Jakarta, cetakan kedua, 1986.
Abdurrahman,Hafidz, Ulumul Quran
Praktis, Bogor: CV Idea Pustaka Utama, 2003.
Muhammad Abduh dalam bukunya, Risalah
At-Tauhid.
TM.
As-Shiddieqy, Hasbi, Sejarah dan
Pengantar Ilmu Alquran dan Tafsir, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010,
hal. 8.
Mohammad Muslih, Pengantar Ilmu
Filsafat, Ponorogo: Darussalam University Press, 2008, hal. 39.
Al-Bukhori, Kitab Permulaan Wahyu, hadis
no. 2.
Almunadi, Ulumul Quran 1,
Palembang: Grafika Telindo Press, 2012.
Nasution, Harun, Akal Dan Wahyu Dalam Islam, Jakarta: UI Press. 1986.
Toshihiko Izutsu, Litt. D., God and Man
in the Quran, Tokio, Keio University, 1964, hlm. 65.
Nasution, Harun, Pembaharuan Dalam Islam, Jakarta: Bulan
Bintang. 1992.
Lihat al-Syahrastani, Kitab Nihayah
al-Iqdam fi ‘Ilm al-Kalam (selanjutnya disebutNihayah) London, 1934,
hlm.371.
Nasution, Harun, Teologi Islam Aliran-Aliran
Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986.
Hlm 81-82.
Nasution, Harun, Teologi Islam,
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986. Hlm. 97-111.
Al-Qur’an, Semarang: Alwaah, 2002, Hlm. 334,430,470,224,537,459,68-69,305
[2] Harun Nasution, Teologi Islam
(Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan), UI Press, Jakarta,cet.V,1986.
[4] Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam,
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986, hlm 5-6.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar