AYAT-AYAT TENTANG EKONOMI
1. Aktivitas
Ekonomi adalah bagian dari ibadah:
QS. Al-Baqarah: 177
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ
تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ
آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ
وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ
الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ
الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (١٧٧)
Artinya:
Bukanlah menghadapkan
wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya
kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat,
kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah
orang-orang yang bertakwa.
Aqidah adalah landasan dasar utama dan pertama
dari ekonomi Islam. Selanjutnya diimplementasikan dalam berbagai aspek
kehidupan dengan berpedoman kepada syari’at. Setiap implementasi syari’at harus
berlandaskan pada aqidah, apabila tidak maka amalan tersebut sia-sia.
2. Hak
memiliki harta
QS. An-Nisaa’: 29
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ
تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ
كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (٢٩)
Artinya:
Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil,
kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara
kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.
Teori Perwakilan/Amanah:
a. Pemilik
sebenarnya ( hakiki ) adalah Allah Swt.
b. Manusia
mendapat amanah dari pemilik sebenarnya.
c.
Wakil/Yang mendapat amanah harus mengikuti aturan
dari yang mewakilkan/memberi amanah.
d. Kalau
tidak tunduk pada aturan, maka yang mewakilkan/pemberi amanah akan menegur,
memperingatkan bahkan bisa mencabut wewenangnya sebagai
wakil.
3. Landasan
Akuntansi
QS. Al-Baqarah: 282
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ
كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ
وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي
عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ
فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ
فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ
الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الأخْرَى وَلا
يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا
أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ
لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلا تَرْتَابُوا إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً
تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلا تَكْتُبُوهَا
وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلا شَهِيدٌ وَإِنْ
تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ
وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (٢٨٢)
Artinya:
Hai orang-orang yang
beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang
ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di
antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan
menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia
menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan
ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia
mengurangi sedikit pun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang
lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan,
maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua
orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang
lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi
yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya.
Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil;
dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas
waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat
menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu,
(Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang
kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak
menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis
dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka
sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada
Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Sifat utama yang harus dimiliki setiap muslim dalam berekonomi:
a. Shiddiq
Memastikan bahwa aktivitas ekonomi dilakukan
dengan moralitas yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Salah satu bentuk
kejujuran itu adalah, jika berhutang Rp. 100.000, segera ditulis, dipersaksikan
dan tidak ada niat untuk membohongi dengan tidak mau melunasinya.
b. Fathanah
Memastikan bahwa kegiatan usaha dilakukan secara
profesional dan kompetitif sehingga menghasilkan keuntungan maksimum dalam
tingkat risiko telah dihitung. Dalam berhutang misalnya, hendaknya
memperhitungkan kemampuan dirinya. Jangan sampai berhutang hanya untuk
berfoya-foya / hal-hal yang tidak bermanfaat.
c. Amanah
Menjaga dengan ketat prinsip kepercayaan, yaitu
dengan mempercayai orang lain dan menjaga kepercayaan orang lain. Dalam
berhutang misalnya, harus berniat untuk segera melunasinya ketika mampu
melunasinya.
d. Tabligh
Mendorong prinsip-prinsip transparansi
(keterbukaan), dalam bermu’amalah. Salah satu bentuknya adalah selalu menulis
surat resmi dalam setiap berakad. Dan menunjuk dua saksi agar kalau yang satu
lupa, yang lain dapat mengingatkan.
Surat Al-Baqarah ayat 282 tersebut, secara
tersirat menjelaskan bahwa praktik akuntansi, seperti; Catatan, Bukti
Pemeriksaan, Independensi keputusan pemeriksa sesuai dengan syari’at Islam.
4. Landasan
Manajemen
QS. Al-Maidah: 8
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ
شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (٨)
Artinya:
Hai orang-orang yang
beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran)
Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku
adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada
Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Jadi, pada dasarnya Allah Swt mencintai orang
yang selalu berbuat secara terencana, profesional dalam mengelola, seperti:
a. Memiliki
keahlian.
قَالَ رسول الله: ( إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى
غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ ) رواه البخارى
b. Teratur.
Ash-Shaff: 4
{ إن الله يحب الذين يقاتلون في سبيله صفا كأنهم بنيان مرصوص
}
c. Amanah.
Al-Mukminun: 8
{ والذين هم لأماناتهم وعهدهم راعون }
d. Bertanggung
jawab.
قَالَ رسول الله: ( كلّكم راع
وكلّكم مسئول عن رعيّته )
e. Adil
/ Mengambil keputusan dengan tepat. Al-Maidah: 8
{ يا أيها الذين آمنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم
شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى واتقوا الله إن الله خبير بما
تعملون }
f. Menghormati
dan menghargai orang lain
قال رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: ( مَن
أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِى الأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ ). رواه الترمذى
g. Meninggalkan
cara-cara yang tidak diridhai oleh Allah Swt.
قال رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: ( لعن
الله الرّاشى والمرتشى
5. Landasan
dasar Bank Syari’ah
QS. An-Nisaa’: 58
إِنَّ اللَّهَ
يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ
بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ
بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (٥٨)
Artinya:
Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh
kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan
adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.
Definisi Bank, Perbankan adalah badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada
masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. (pasal 5 UU
7/92)
Kegiatan Usaha Perbankan :
a. Penghimpunan
dana
b. Penyaluran
dana
c. Jasa
keuangan perbankan
Syarat transaksi sesuai syariah :
a. Tidak
mengandung unsur kedzaliman
b. Bukan
riba
c. Tidak
membahayakan pihak sendiri atau pihak lain
d. Tidak
ada penipuan (gharar)
e. Tidak
mengandung materi-materi yg diharamkan
f. Tidak mengandung unsur judi
(maisyir)
HADITS-HADITS TENTANG EKONOMI
1. Jual
Beli
عن ابي هريرة رض عن النبي ص م قا ل لا يخترقن اثنا
ن الا عن تراض (رواه ابوداود والتر مذى)
Artinya:
Dari Abi Hurairah r.a
dari Nabi saw. bersabda: “jangan;ah dua orang yang jual beli berpisah, sebelum
saling meridhai” (Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi).
2. Riba
دِرْهَمُ رِبَا يَاًكُلُهُ الرَّ جُلُ وَهُوَ
يَعْلَمُ أشَدُّ مِنْ سِتِّ وَ ثَلاَثِيْنَ زِ يْنَةً (رواه احمد)
Artinya:
“Satu dirham uang riba
yang dimakan seseorang, sedangkan orang tersebut mengetahuinya, dosa perbuatan
tersebut lebih berat daripada dosa enam puluh kali zina (HR. Ahmad)
3. Pinjaman
فَإِنَّ خَيْرِ كُمْ أ حْسَنَكُمْ قَضَا ءً (رواه البخارى و
مسلم)
Artinya:
Sesungguhnya di antara
orang-orang yang terbaik dari kamu adalah orang yang sebaik-baiknya dalam
membayar utang. (HR. Bukhari dan Muslim).
4. Gadai
اَلظَّهْرُيُرْكَبُ أذَا كَانَ مَرْهُوْنًا وَلَبَنُ
الدَّرِّيَشْرَبُ إذَا كَانَ مَرْهُوْنًا وَعَلَى الَّذِىْ يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ
نَفَقَتُهُ (رواه البخارى)
Artinya:
Binatang tunggangan bleh
ditunggangi karena pembiayaannya apabila digadaikan, binatang boleh diambil
susunya untu diminum karena pembiayaannya bila digadaikan bagi orang yang
memegang dan meminum wajib memberikan biaya.
5. Pembayaran
Upah
اُ عْطُواالأَجِيْرَ أجْرَهُ قَبْلَ اَنْ يَّجِفَّ
عُرُقُهُ
Artinya:
Berikanlah upah sebelum
keringat pekerja itu kering.
6. Musaqah
أَعْطَى خَيْبَرَ بِشَطْرِ مَايَخْرُجُ مِنْهَا
مِنْ ثَمَرٍ أَوْ زَرْعٍ وَفِى رِوَايَةٍ دَفَعَ إلَى اليَهُوْدِ خَيْبَرَ
وَأَرْضَهَا عَلَى اَنْ يَعْمَلُوْهَا مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَأنْ لِرَسُوْلِ اللّه
ص م شَطْرَهَا
Artinya:
Memberikan tanah Khaibar
dengan bagian separoh dari penghasilan, baik buah-buahan maupun (tanaman). Pada
riwayat lain dinyatakan bahwa Rasul menyerahkan tanah Khaibar itu kepada
Yahudi, untuk diolah dan modal dari hartanya, penghasilan separohnya untuk
Nabi.”
7. Mukhabarah
dan Muzara’ah
إِنَّ النَّبِىِّ ص م لَمْ يُحَرِّمِ
المُزَارَعَةُ وَلَكِنْ اَمَريَرْفُقَ بَعْضُهُمْ بِبَعْضِ بِقَوْلِهِ منْ كَانَتْ
لَهُ أرْضٌ فَلْيَزْرَعْهَا أَوْ لِيَمْنَحْهَا اَخَاهُ فَإِ أَبَى فَلْيُمْسِكْ
اَرْضُهُ (رواه البخارى)
Artinya:
Sesungguhnya Nabi saw.
menyatakan, tidak mengharamkan bermuzara’ah bahkan beliau menyuruhnya, supaya
yang sebagian menyayangi sebagian yang lain, dengan katanya, barangsiapa yang
memiliki tanah, hendaklah ditanaminya atau diberi faedahnya kepada saudaranya,
jika ia tidak mau, maka boleh ditahan saja tanah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar